Dongkrak Ketahanan Pangan, Program P3TGAI 2026 Mulai Dikerjakan di Susukan, Petani Hadapi Medan Sulit Demi Irigasi Permanen

Jumat, 3 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu sampel progres 30 % kegiatan P3TGAI dari Kelompok P3A lampis, Desa Kemranggon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara.(Dok.foto Pelita News.id)

Salah satu sampel progres 30 % kegiatan P3TGAI dari Kelompok P3A lampis, Desa Kemranggon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara.(Dok.foto Pelita News.id)

Banjarnegara, Pelitanews.id – Upaya memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan infrastruktur irigasi mulai direalisasikan di Kabupaten Banjarnegara. Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI) Tahun Anggaran 2026 yang bersumber dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak kini mulai dikerjakan di sejumlah daerah, termasuk Kecamatan Susukan.

Program ini menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan produktivitas pertanian melalui pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi tersier. Selain menjamin ketersediaan air bagi lahan pertanian, P3TGAI juga mendorong pemberdayaan masyarakat karena proses pengerjaannya melibatkan kelompok petani setempat.

Di Kecamatan Susukan terdapat delapan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) yang menerima program P3TGAI tahun 2026, yakni:

1. P3A Turi Jaya, Desa Brengkok.
2. P3A Tirta Makmur, Desa Dermasari.
3. P3A Tirta Mulya, Desa Kedawung.
4. P3A Lampis, Desa Kemranggon.
5. P3A Randu Alas, Desa Kemranggon.
6. P3A Tirta Agung, Desa Susukan.
7. P3A Lembah Girilangan, Desa Gumelem Wetan.
8. P3A Tirta Mulya, Desa Panarusan Kulon.

READ  Bukan Sekadar Buah, Durian Lokal Banjarnegara Kini Jadi Produk "Limited Edition"

Khusus di Desa Kemranggon, dua kelompok P3A sekaligus memperoleh alokasi program, yakni P3A Lampis dan P3A Randu Alas. Hal ini menunjukkan besarnya kebutuhan pembangunan jaringan irigasi di wilayah tersebut.

Ketua P3A Randu Alas, Mardianto, mengatakan pembangunan irigasi di wilayahnya bukanlah pekerjaan yang mudah. Medan yang sulit serta minimnya akses jalan menuju lokasi menjadi tantangan utama dalam proses pengerjaan.

“Kami memikirkan kebutuhan petani yang selama ini kesulitan mendapatkan air. Lokasi pembangunan berada di daerah yang sulit dijangkau. Meski berat, pekerjaan ini tetap harus kami selesaikan demi kepentingan para petani,” ujarnya, Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, distribusi material bangunan menjadi kendala terbesar karena tidak dapat menjangkau lokasi proyek. Seluruh material harus diangkut melalui jalan setapak dan pematang sawah.

“Kami tidak memiliki akses jalan untuk melangsir material. Semua harus melewati pematang sawah. Kondisi ini tentu memperlambat pekerjaan, tetapi semangat masyarakat tetap tinggi karena mereka memahami pentingnya saluran irigasi permanen,” katanya.

Mardianto menjelaskan, berdasarkan hasil survei, Desa Kemranggon masih memiliki sekitar 7 kilometer jaringan irigasi tersier yang belum terbangun. Karena itu, kebutuhan pembangunan masih sangat besar agar seluruh areal persawahan memperoleh pasokan air yang memadai.

READ  Jawara Banten Bersatu di Cisitu: Antara Penjaga Marwah Adat dan Bayang-bayang Otoritas Sipil*

Ia berharap pemerintah dapat terus mengalokasikan program P3TGAI setiap tahun sehingga pembangunan jaringan irigasi dapat dilakukan secara bertahap hingga seluruh kebutuhan terpenuhi.

“Kalau setiap tahun bisa dibangun sekitar satu kilometer, maka dalam beberapa tahun seluruh jaringan yang dibutuhkan akan selesai. Harapan kami, Desa Kemranggon terus mendapat perhatian melalui program P3TGAI karena manfaatnya sangat dirasakan petani,” ungkapnya.

Selain mendukung peningkatan produksi pertanian, program ini juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat. Sistem pemberdayaan yang diterapkan dalam P3TGAI membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar sehingga manfaatnya dirasakan secara langsung oleh masyarakat desa.

Saat ini progres pembangunan di lokasi P3A Randu Alas telah mencapai satu minggu pekerjaan berjalan sekitar 20 persen, Meski terkendala medan dan akses yang terbatas, pengerjaan terus dikebut agar jaringan irigasi permanen dapat segera dimanfaatkan petani untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian dan memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Banjarnegara.
(Bas)

Berita Terkait

Bus Eka Tujuan Cilacap Terbakar di Madiun, Seorang Penumpang Terluka Bakar
*Mendagri Tito Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Kalimantan Barat*
Pekan Raya Balaraja Kedua Resmi Dibuka, Bupati Tangerang Dorong Pelestarian Budaya dan Penguatan UMKM
Pengrajin Tikar Pandan Mawangi Bertahan di Tengah Jerat Pengepul, Harga Rp28 Ribu Per Lembar
Dinilai “Planga-Plongo” dan Jadi Batu Sandungan Daerah, Aktivis Desak Bupati Madina Copot Pj. Sekda Afrizal
Pimpin Apel HUT ke-65 Bupati Maesyal Rasyid Dorong Anggota Pramuka Jadi Pemimpin Masa Depan
SMSI Tangsel Serukan Pemerintah Buka Mekanisme Belanja Iklan Media Lokal
Ayah Tiri Diduga Cabuli Anak Selama Lima Tahun, Ibu Kandung Turut Dilaporkan di Tangerang

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:54

Bus Eka Tujuan Cilacap Terbakar di Madiun, Seorang Penumpang Terluka Bakar

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 18:10

*Mendagri Tito Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Kalimantan Barat*

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 16:00

Pekan Raya Balaraja Kedua Resmi Dibuka, Bupati Tangerang Dorong Pelestarian Budaya dan Penguatan UMKM

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 06:01

Pengrajin Tikar Pandan Mawangi Bertahan di Tengah Jerat Pengepul, Harga Rp28 Ribu Per Lembar

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:23

Dinilai “Planga-Plongo” dan Jadi Batu Sandungan Daerah, Aktivis Desak Bupati Madina Copot Pj. Sekda Afrizal

Berita Terbaru