Mbako Garangan Semangkung, Warisan Leluhur yang Bertahan di Lereng Pejawaran

Kamis, 13 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BANJARNEGARA – Di tengah sejuknya udara pegunungan Desa Semangkung, Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, tradisi mengolah tembakau secara turun-temurun masih terus hidup. Tradisi tersebut dikenal dengan sebutan Mbako Garangan, olahan tembakau khas yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Proses pembuatan mbako garangan tidaklah sederhana. Mulai dari pelayuan daun tembakau, perajangan, pemanggangan atau penggarangan di atas tungku kayu bakar, hingga penjemuran di bawah sinar matahari, seluruh tahapan dilakukan secara tradisional dan membutuhkan ketelitian tinggi.

Salah satu pengrajin yang hingga kini masih setia menjaga tradisi tersebut adalah Siswo (84) atau yang akrab disapa Mbah Siswo. Dengan tangan yang masih cekatan, ia merajang daun tembakau seperti yang telah dilakukannya selama puluhan tahun.

“Mbako garangan di Semangkung ini sudah ada sejak lama. Dulu orang tua saya juga membuat mbako garangan. Kalau saya sendiri mulai sejak umur 15 tahun membuat mbako garangan,” ujar Mbah Siswo saat ditemui di kediamannya, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, pembuatan mbako garangan memerlukan pemahaman yang baik terhadap musim. Panen tembakau hanya dilakukan sekali dalam setahun menjelang musim kemarau sehingga petani harus cermat menentukan waktu tanam dan panen agar menghasilkan bahan baku berkualitas.

READ  Jawara Banten Bersatu di Cisitu: Antara Penjaga Marwah Adat dan Bayang-bayang Otoritas Sipil*

Proses pengolahan dimulai dengan pelayuan daun tembakau yang baru dipetik hingga menguning secara alami. Setelah itu, daun dirajang tipis dan seragam, lalu ditata serta dipadatkan di atas rigen, yaitu alas yang terbuat dari anyaman bambu.

Tahapan berikutnya adalah proses penggarangan. Tembakau yang telah ditata di atas rigen dipanggang langsung di atas bara kayu bakar untuk menghasilkan aroma asap yang khas sekaligus mempertahankan warna tembakau. Setelah selesai digarang, tembakau dijemur selama kurang lebih 15 hari hingga mencapai kualitas yang diinginkan.

“Proses bertahap ini menghasilkan tembakau padat berwarna hitam yang memiliki karakter rasa khas, legit, tidak ampang, dan meninggalkan sensasi manis alami,” jelas Mbah Siswo.

Selain memiliki cita rasa yang unik, mbako garangan juga bernilai ekonomi tinggi. Satu eler atau lembar mbako garangan berukuran sekitar 50 sentimeter x 30 sentimeter dengan ketebalan sekitar 2 sentimeter dapat dijual dengan harga sekitar Rp500 ribu. Dalam satu rigen biasanya dihasilkan lima eler mbako garangan yang dipasarkan tidak hanya di Banjarnegara, tetapi juga ke berbagai daerah di luar kota.

READ  Lettu Inf Harits Adam Yuseno Dimakamkan Secara Militer di Banjarnegara

Sekretaris Desa Semangkung, Badriah, mengatakan bahwa meskipun tembakau memberikan nilai ekonomi yang cukup menjanjikan, para petani tetap menerapkan sistem tumpang sari dengan menanam berbagai jenis sayuran untuk menjaga kestabilan pendapatan sehari-hari.

Namun demikian, keberlangsungan tradisi mbako garangan kini menghadapi tantangan serius. Saat ini hanya sekitar 30 warga yang masih aktif menjadi pengrajin, dan sebagian besar di antaranya sudah berusia lanjut.

“Proses pembuatannya yang rumit dan membutuhkan perlakuan khusus membuat banyak anak muda enggan terjun menjadi pengrajin. Minat generasi muda untuk meneruskan pembuatan mbako garangan ini sangat kurang,” ungkap Badriah.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan keberlanjutan warisan budaya yang telah bertahan selama puluhan bahkan ratusan tahun. Tanpa adanya regenerasi, keahlian mengolah mbako garangan yang selama ini diwariskan dari generasi ke generasi berisiko hilang ditelan zaman.

Padahal, di balik aroma khas asap kayu bakar dan cita rasa tembakau yang legit, mbako garangan bukan hanya komoditas ekonomi, melainkan juga simbol kearifan lokal serta identitas masyarakat Semangkung yang patut dijaga dan dilestarikan.

READ  Ketua KI DKI: Transparansi BPJS Kesehatan Pilar Utama Membangun Kepercayaan Publik

(red)

Berita Terkait

Sebanyak 110 Peserta Mengikuti STQ Tilawah Gemilang Tingkat Kabupaten Tangerang dan Launching Buku Ayat-Ayat Semesta.
Merawat Ikatan, Menguatkan kontribusi. PC IKA PMII Kabupaten Tangerang Resmi Dilantik Masa Khidmat 2026-2031
BPN Banten Gandeng PWI, Masyarakat Diharapkan Lebih Paham Prosedur Pertanahan
Santri Banjarnegara Didorong Kuasai Iptek dan Berinovasi
HPS 2026, Zarkasi Dorong Perlindungan Sawah dan Perbaikan Irigasi
Lettu Inf Harits Adam Yuseno Dimakamkan Secara Militer di Banjarnegara
HPS 2026, Banjarnegara Surplus Beras 30 Ribu Ton dan Dorong Diversifikasi Pangan Lokal
Pemkab Banjarnegara Dukung Perjuangan Pengakuan dan Kesejahteraan Guru PAUD
Tag :

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 22:58

Sebanyak 110 Peserta Mengikuti STQ Tilawah Gemilang Tingkat Kabupaten Tangerang dan Launching Buku Ayat-Ayat Semesta.

Jumat, 23 Oktober 2026 - 23:52

Merawat Ikatan, Menguatkan kontribusi. PC IKA PMII Kabupaten Tangerang Resmi Dilantik Masa Khidmat 2026-2031

Jumat, 23 Oktober 2026 - 17:19

BPN Banten Gandeng PWI, Masyarakat Diharapkan Lebih Paham Prosedur Pertanahan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:12

HPS 2026, Zarkasi Dorong Perlindungan Sawah dan Perbaikan Irigasi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 09:10

Lettu Inf Harits Adam Yuseno Dimakamkan Secara Militer di Banjarnegara

Berita Terbaru