Banjarnegara,PelitaNews.id– Harapan ratusan petani di Desa Brengkok, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, terhadap rehabilitasi Dam Kali Kepuh hingga kini belum terwujud. Padahal, bendung yang telah puluhan tahun menjadi sumber irigasi itu menjadi penopang utama pasokan air bagi sekitar 100 hektare lahan pertanian di wilayah Brengkok hingga perbatasan Desa Karang Salam.
Pemerintah Desa Brengkok mengaku telah berulang kali mengusulkan perbaikan bendung tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui dinas terkait. Namun, hingga pertengahan 2026, usulan itu belum juga terealisasi, sementara kondisi bangunan terus mengalami penurunan fungsi.
Kepala Desa Brengkok, Paryan Nurcahyo, mengatakan rehabilitasi Dam Kali Kepuh menjadi kebutuhan mendesak mengingat sektor pertanian merupakan mata pencaharian utama masyarakat setempat.
“Sudah berkali-kali kami mengusulkan, bahkan pihak kecamatan juga ikut membantu menyampaikan usulan. Namun sampai sekarang belum ada realisasi. Harapan kami, dam ini tidak hanya diperbaiki, tetapi dibangun lebih permanen agar mampu mendukung peningkatan hasil panen padi masyarakat,” ujar Paryan, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, Dam Kali Kepuh memiliki nilai historis karena sejak puluhan tahun lalu menjadi sumber kehidupan bagi petani di wilayah tersebut. Keberadaan bendung itu kini mampu mengairi sekitar 100 hektare lahan persawahan**, sekaligus menopang budidaya tanaman pangan lainnya.
Paryan mengenang, sebelum bendung dibangun, aliran Kali Kepuh hanya dimanfaatkan secara terbatas, terutama untuk memenuhi kebutuhan warga saat musim kemarau.
“Dulu saat saya masih muda, Kali Kepuh belum dimanfaatkan secara maksimal. Baru setelah ada dam, pasokan air untuk sawah menjadi jauh lebih baik sehingga pertanian berkembang,” katanya.
Hal senada disampaikan Mardiono (56), petani asal Dusun Krajan. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Banjarnegara segera merehabilitasi Dam Kali Kepuh agar fungsi irigasi kembali optimal.
Menurut Mardiono, kerusakan paling terlihat berada pada bagian sayap bendung dan saluran pelimpah (spillway). Berdasarkan pengamatannya, bagian pelimpah yang rusak mencapai sekitar 10 meter, sedangkan kerusakan pada sayap kanan dan kiri bendung diperkirakan mencapai 20 meter.
Ia juga menceritakan, sebelum bendung permanen dibangun pada era 1980-an, warga harus bergotong royong membendung aliran sungai menggunakan batang pohon kelapa setiap kali memasuki musim tanam maupun menjelang panen.
“Dulu sebelum ada dam permanen, warga bersama-sama membendung sungai dengan batang kelapa agar air bisa masuk ke sawah. Sekarang kondisinya sudah banyak mengalami kerusakan sehingga memang perlu diperbaiki,” ujarnya.
Mardiono menambahkan, jaringan irigasi tersier di wilayah Brengkok saat ini sudah mulai diperkuat melalui sejumlah program peningkatan tata guna air, termasuk Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3TGAI). Namun, menurutnya, manfaat program tersebut belum akan maksimal apabila bangunan utama Dam Kali Kepuh tidak segera direhabilitasi.
Ia berharap pemerintah daerah menjadikan perbaikan bendung tersebut sebagai salah satu prioritas pembangunan infrastruktur pertanian.
“Kami berharap Ibu Bupati bisa melihat potensi Kali Kepuh. Selain mendukung pertanian, sumber air ini juga berpeluang dikembangkan untuk sektor perikanan dan perkebunan jika pengelolaannya lebih optimal,” pungkasnya. (Bas)






