Banjarnegara, PelitaNews.id– Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memperkuat ketahanan pangan melalui kolaborasi pemanfaatan lahan tidak produktif. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menanam jagung hibrida bersama Santri Gayeng Nusantara (SGN) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di Desa Bandingan, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, Selasa (14/7/2026).
Program tersebut memanfaatkan lahan milik PT Indonesia Power UPT Waduk Mrica seluas 57 hektare yang dikelola bersama SGN dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bandingan. Kawasan sabuk hijau (green belt) itu dikembangkan menjadi kawasan pertanian terpadu berbasis konsep integrated farming dengan prinsip zero waste, sehingga tidak hanya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Pimpinan Pondok Pesantren Tanbihul Ghofilin, Muhammad Hamzah Hasan, mengatakan, program tersebut merupakan tindak lanjut arahan Wakil Gubernur agar kalangan santri turut berperan dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Alhamdulillah, lahan yang dikerjasamakan mulai dimanfaatkan oleh kelompok tani. Bahkan kawasan ini direncanakan menjadi Agroeduwisata Religi Desa Bandingan,” ujarnya.
Kawasan pertanian itu akan ditanami berbagai komoditas, mulai dari padi, jagung, cabai, kubis, dan terong hingga tanaman tahunan seperti durian dan alpukat. Selain itu, dikembangkan pula peternakan kambing yang limbahnya diolah menjadi pupuk organik sebagai bagian dari sistem pertanian berkelanjutan.
Wakil Gubernur Taj Yasin mengapresiasi inisiatif tersebut karena mampu menjaga keseimbangan antara produktivitas pertanian dan pelestarian lingkungan. Menurutnya, pohon-pohon besar di kawasan itu tetap dipertahankan sebagai penyangga ekosistem sekaligus pengikat tanah untuk mengurangi risiko longsor saat musim hujan.
“Kelestarian lingkungan harus tetap menjadi prioritas. Pohon besar tidak ditebang habis demi membuka lahan. Ini menjadi contoh pertanian yang tetap menjaga ekosistem,” kata pria yang akrab disapa Gus Yasin.
Ia menambahkan, diversifikasi komoditas, khususnya cabai, menjadi langkah strategis untuk membantu pemerintah mengendalikan inflasi daerah. Apabila terjadi lonjakan harga di wilayah lain, pasokan dari Banjarnegara dapat didistribusikan guna menjaga stabilitas harga di Jawa Tengah.
Pemprov Jateng juga tengah menyiapkan program Aswaja (Ansor Swasembada Jagung) yang melibatkan pemuda dan kalangan santri di berbagai daerah sebagai upaya memperkuat produksi jagung nasional.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Jawa Tengah, Himawan Wahyu Pamungkas, mengungkapkan, pada 2025 Jawa Tengah memproduksi 3,421 juta ton jagung atau berkontribusi 17,02 persen terhadap produksi nasional. Pada 2026, Pemprov mengalokasikan stimulus pengembangan jagung seluas 3.200 hektare melalui APBD, termasuk di Kabupaten Banjarnegara.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Tanaman Pangan Kabupaten Banjarnegara, Firman Sapta Adi, menjelaskan bahwa varietas yang dikembangkan di Desa Bandingan adalah Jagung Hibrida Perwira. Dari total kawasan, sekitar 10 hektare dialokasikan untuk padi dan 5 hektare untuk jagung. Penanaman perdana secara simbolis dilakukan di lahan seluas 1,5 hektare dan akan diperluas secara bertahap.
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menyatakan siap mengawal pengembangan kawasan pertanian terpadu tersebut sebagai bagian dari upaya mendukung program swasembada pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani melalui pengelolaan lahan yang produktif dan berkelanjutan. (Bas)






