Polisi Ungkap Modus Aplikasi Presensi Fiktif di Brebes, Sembilan Guru ASN Ditahan

Rabu, 1 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BREBES, – Kepolisian Resor (Polres) Brebes berhasil mengungkap praktik penyalahgunaan aplikasi presensi berbasis Android yang digunakan untuk memanipulasi absensi aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Brebes. Dalam pengungkapan kasus tersebut, sembilan orang yang seluruhnya berstatus guru ASN ditetapkan sebagai tersangka.

Pengungkapan bermula dari laporan Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM Daerah (BKPSDMD) Kabupaten Brebes setelah ditemukan kejanggalan pada sistem presensi elektronik pada akhir April 2026. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya dugaan manipulasi titik koordinat (GPS) sehingga pengguna dapat melakukan absensi tanpa berada di lokasi kerja.

Kapolres Brebes AKBP Lilik Ardiansyah menjelaskan, penyelidikan dilakukan oleh Satreskrim Polres Brebes hingga akhirnya berhasil mengidentifikasi jaringan yang diduga membuat sekaligus menyebarkan aplikasi ilegal tersebut.

Menurutnya, aplikasi yang dikenal dengan nama “Person” dibuat untuk menembus sistem presensi resmi milik Pemerintah Kabupaten Brebes. Setelah berhasil dikembangkan, aplikasi tersebut dipasarkan kepada ASN dan digunakan untuk melakukan presensi secara tidak sah.

“Dari hasil penyelidikan kami, aplikasi ini dibuat untuk mengakses sistem presensi resmi sehingga pengguna dapat melakukan absensi tanpa harus berada di titik lokasi yang semestinya,” ujar Lilik dalam konferensi pers, Rabu (1/7/2026).

READ  Wamendagri Akhmad Wiyagus: Penanganan TBC Harus Terintegrasi dalam Perencanaan dan Anggaran Daerah

Dalam perkara ini, polisi menetapkan sembilan tersangka berinisial AH, DB, FFR, RTH, NK, AM, SEP, SDK, dan LS. Mereka memiliki peran berbeda, mulai dari pembuat aplikasi, penyedia rekening penampung hasil penjualan, hingga pihak yang memasarkan dan menggunakan aplikasi tersebut.

Penyidik juga menyita sejumlah barang bukti berupa laptop, telepon genggam, data presensi ASN, dokumen transaksi perbankan, serta rekening yang diduga digunakan dalam aktivitas penjualan aplikasi.

Kasat Reskrim Polres Brebes AKP Farid Nur Aziz mengatakan seluruh tersangka merupakan guru ASN yang bertugas di sejumlah sekolah di Kabupaten Brebes. Mereka kini menjalani penahanan di Rumah Tahanan Kelas IIB Brebes sejak 27 Juni 2026.

Atas dugaan perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 333 huruf h juncto Pasal 20 huruf c Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP mengenai penyebaran maupun pemanfaatan kode akses atau informasi untuk menerobos sistem elektronik yang digunakan pemerintah.

Ribuan ASN Terindikasi Gunakan Presensi Ilegal

Kasus pidana tersebut merupakan tindak lanjut dari investigasi internal Pemerintah Kabupaten Brebes terhadap penggunaan aplikasi presensi ilegal.

READ  Wamendagri Tekankan Peran Strategis DPRD Provinsi dalam Perkuat Kemandirian Fiskal Daerah

Sekretaris Daerah Kabupaten Brebes, Tahroni, sebelumnya mengungkapkan hasil pemeriksaan menemukan 2.566 ASN terindikasi menggunakan aplikasi tersebut. Setelah dilakukan verifikasi faktual, sebanyak 2.509 ASN dinyatakan terbukti memanfaatkan aplikasi presensi ilegal.

Mayoritas berasal dari sektor pendidikan, sedangkan sisanya merupakan tenaga kesehatan. Meski demikian, hasil evaluasi pemerintah daerah menyebut sebagian besar ASN tetap menjalankan tugas pelayanan publik dan proses belajar mengajar sebagaimana mestinya. Aplikasi tersebut disebut lebih banyak digunakan untuk memanipulasi waktu kehadiran maupun kepulangan.

Pemerintah Kabupaten Brebes memastikan akan menjatuhkan sanksi disiplin sesuai ketentuan kepegawaian, sekaligus melakukan pembenahan sistem absensi elektronik agar tidak kembali disalahgunakan.

Kepala BKPSDMD Kabupaten Brebes, Syamsul Haris, mengatakan penjatuhan sanksi terhadap sembilan ASN yang telah menjadi tersangka pidana masih menunggu proses hukum yang sedang berjalan.

“Untuk sanksi administratif, kami akan menunggu putusan hukum yang berkekuatan tetap,” ujarnya.

Berita Terkait

Kakek Pendiam Gantung Diri di Pohon Mangga Dekat Masjid Desa Tanjung Magetan
Ormas dan Mahasiswa Gelar Aksi di Summarecon Serpong, Soroti Dugaan Intimidasi Pedagang Starling dan PKL
Sekolah Rakyat Permanen Banjarnegara Masuk Tahap Persiapan AMDAL dan LSD, Fisik Ditarget Mulai November
Bazar Produk Siswa Sekolah Lansia Istiqomah Banjarnegara Tampilkan Karya dari Hasil Pembelajaran
Dua Tahun Tak Dimanfaatkan, SHGB Situ Rompong Diminta Dipertimbangkan untuk Dibatalkan
Tangsel Diselimuti Abu Vulkanik, Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Rumah
Perubahan APBD 2026 Fokus Percepatan Infrastruktur Jalan dan Jembatan Banjarnegara
BPKP Jateng dan Pemkab Banjarnegara Perkuat Pencegahan Risiko, Dorong Tata Kelola Pemerintahan yang Baik
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 16:36

Kakek Pendiam Gantung Diri di Pohon Mangga Dekat Masjid Desa Tanjung Magetan

Kamis, 17 September 2026 - 14:39

Ormas dan Mahasiswa Gelar Aksi di Summarecon Serpong, Soroti Dugaan Intimidasi Pedagang Starling dan PKL

Kamis, 17 September 2026 - 08:06

Sekolah Rakyat Permanen Banjarnegara Masuk Tahap Persiapan AMDAL dan LSD, Fisik Ditarget Mulai November

Rabu, 16 September 2026 - 20:07

Bazar Produk Siswa Sekolah Lansia Istiqomah Banjarnegara Tampilkan Karya dari Hasil Pembelajaran

Selasa, 15 September 2026 - 07:50

Dua Tahun Tak Dimanfaatkan, SHGB Situ Rompong Diminta Dipertimbangkan untuk Dibatalkan

Berita Terbaru

koleksi

Tut Wuri Golek Rai

Selasa, 6 Okt 2026 - 12:09