Perkuat Kompetensi Dokter, RSI Sultan Agung Bahas Harvesting Stem Cell dan Standardisasi Laboratorium

Minggu, 18 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SEMARANG, pelitanews.id — RSI Sultan Agung Semarang melalui Bagian Pendidikan dan Pelatihan (Diklat), bekerja sama dengan Pramita Lab Group dan Kiwiclinic, menggelar pelatihan privat internasional Harvesting Stem Cell pada 17–18 Februari. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperdalam pemahaman tenaga medis mengenai terapi regeneratif, khususnya teknik pengambilan sel punca serta pengembangan layanan berbasis Point of Care (PoC) dan industrialisasi produk biologi.

Pelatihan tersebut sekaligus menjadi sarana sosialisasi dan pendalaman konsep Auto Haemotherapy and Cell Unit Research (AHT-CURE), sebuah gagasan presisi medis yang diinisiasi DR. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua, sekitar tiga tahun lalu di Mawar Beauty Care, Cijantung, bersama sejumlah profesor dan Kepala Kesehatan Kopassus saat itu, Kolonel Ckm dr. Oedjang Setijawan, M.Si.Med., Sp.B.

Seiring perkembangannya, konsep AHT-CURE mencakup berbagai pendekatan terapi regeneratif, mulai dari Platelet-Rich Plasma (PRP), eksosom, sekretom, hingga pemanfaatan Mesenchymal Stem Cell (MSC) yang berkaitan dengan Stromal Vascular Fraction (SVF) dari aspirasi lemak melalui prosedur liposuksi dengan anestesi lokal maupun aspirasi sumsum tulang.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendalami tiga pendekatan utama pengambilan sel, yakni Peripheral Blood Stem Cell, SVF dari liposuksi, dan Bone Marrow Stem Cell melalui aspirasi sumsum tulang.

READ  KM Mutiara Sentosa II Terbakar di Perairan Sumenep, Proses Evakuasi Penumpang Berlangsung

Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah membangun pemahaman mengenai posisi layanan Point of Care dan industri farmasi dalam pengembangan terapi berbasis sel. Kedua pendekatan tersebut memiliki fungsi, kebutuhan fasilitas, serta persyaratan tata kelola yang berbeda.

Pendekatan PoC berorientasi pada pelayanan klinis di fasilitas kesehatan, termasuk penanganan berbasis sel autologus yang berasal dari pasien sendiri. Pelaksanaannya memerlukan tata kelola yang sesuai, pengendalian mutu, keselamatan pasien, serta pemenuhan ketentuan perizinan dan regulasi yang berlaku.

Sementara itu, industrialisasi produk biologi membutuhkan sistem produksi yang terstandar, pengendalian mutu yang ketat, serta pemenuhan persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) sesuai ketentuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Pendekatan industri menjadi penting ketika produk ditujukan untuk produksi dalam skala besar, distribusi ke berbagai fasilitas kesehatan, atau penggunaan produk biologi yang memerlukan standardisasi dan konsistensi mutu.

Melalui pemahaman terhadap kedua ranah tersebut, para peserta diharapkan mampu menilai kebutuhan pelayanan secara lebih presisi, sekaligus memahami batasan klinis, persyaratan teknis, dan aspek regulasi yang menyertai penerapan terapi berbasis sel.

Pelatihan internasional ini menghadirkan sejumlah pembicara dengan latar belakang keahlian dari berbagai negara, yakni DR. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua dari Indonesia; Dr. Jaswin, MBBS, M.Sc., CosMed. dari India; serta Dr. Moizza Samy, FCPS, seorang dermatolog dari Pakistan.

READ  Kasus Oknum Polisi Terjerat Narkoba Jadi Sorotan, Publik Desak Penindakan Tegas dan Transparan

Kegiatan ini juga menghadirkan dr. Dadan Sofian, Sp.KFR, M.Kes., AIFO-K, FIPM, CIPS, COMSK, RMSK, sebagai pembicara tamu. Kehadirannya menjadi kesempatan untuk berdiskusi mengenai arah pengembangan terapi autologus di Indonesia, termasuk penguatan kompetensi teknis yang dapat dijangkau oleh dokter dari berbagai disiplin spesialisasi maupun dokter umum sesuai kewenangan profesi dan ketentuan yang berlaku.

Keterlibatan pembicara lintas negara tersebut diharapkan memperluas pertukaran pengetahuan, memperkaya perspektif klinis, dan membuka ruang kolaborasi dalam pengembangan terapi regeneratif.

Untuk mendukung peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di Indonesia, RSI Sultan Agung Semarang membuka ruang konsultasi dan pelatihan privat berkelanjutan.

Dokter, tenaga kesehatan, serta pengelola rumah sakit dan klinik utama yang ingin mendalami teknik harvesting stem cell maupun merencanakan pengembangan laboratorium PoC dan fasilitas produksi berstandar CPOB dapat berdiskusi dengan DR. dr. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua, yang juga menjabat sebagai Direktur Utama RSI Sultan Agung Semarang.

Pengembangan fasilitas tersebut memerlukan perencanaan menyeluruh, mulai dari kesiapan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, sistem pengendalian mutu, hingga pemenuhan persyaratan perizinan. Oleh karena itu, konsultasi diharapkan dapat membantu fasilitas kesehatan memahami jalur pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan pelayanan dan ketentuan regulator.

READ  Satgas Pamtas Yonarmed 19/Bogani Terima Penyerahan Senjata Api

Manager Humas RSI Sultan Agung Semarang, Sri Wahyuni, menyampaikan bahwa program pendidikan dan pelatihan, kegiatan kehumasan, penelitian, serta bakti sosial di lingkungan rumah sakit berada dalam koordinasi Direktur Pendidikan, Pelatihan, Penelitian, Humas, dan Bakti Sosial, dr. Kinanti Narulita, Sp.An-KPTI, FISQua.

Koordinasi tersebut diarahkan untuk menjaga keterpaduan penyelenggaraan kegiatan, mutu akademis, dan dampak sosial program rumah sakit.

Pengembangan ini juga mendapat dukungan Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung (YBWSA) yang diketuai Prof. Bambang Tri Bawono, S.H., M.H. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya pengembangan layanan terapi lanjut dan produk biologi terstandar secara bertahap.

Dengan dukungan kelembagaan serta jaringan laboratorium Pramita di berbagai wilayah Indonesia, Diklat RSI Sultan Agung Semarang berkomitmen meningkatkan mutu program pelatihan melalui penguatan kompetensi sumber daya manusia dan pemanfaatan peralatan yang sesuai standar.

Pelatihan internasional Harvesting Stem Cell ini menjadi salah satu langkah untuk memperluas wawasan tenaga medis mengenai perkembangan terapi regeneratif. Ke depan, pengembangan layanan tersebut perlu berjalan beriringan dengan pembuktian ilmiah, jaminan keselamatan pasien, pengendalian mutu, dan kepatuhan terhadap regulasi agar inovasi medis dapat diterapkan secara bertanggung jawab.

Berita Terkait

Membaca Masa Depan SVF: Inovasi Medis, Keselamatan Pasien, dan Batasan Regulasi
Ketika Sel Bekerja sebagai Tim: Potensi BMAC dan SVF dalam Kedokteran Regeneratif
Terapi Regeneratif Ginjal Berbasis Biomedis Syariah, Peluang Baru Pemanfaatan Cathlab
Mengenal SVF, Terapi Regeneratif Berbasis Sel Autologus dalam Era Personalized Precision Medicin
RSI Sultan Agung Cetak Rekor MURI Penyuluhan Gigitan Ular, Kemitraan dengan Kemenkes Diperkuat
Dari Semarang ke Kuala Lumpur, RSI Sultan Agung Bangun Aliansi Emergency Medicine
Bukan Sekadar Mengisi Jaringan, Inilah Prinsip Terapi Regeneratif Berbasis Sel
Ketika Mikroba Menjadi Sahabat: Fermentasi, Kesehatan, dan Kearifan Islam
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:03

Perkuat Kompetensi Dokter, RSI Sultan Agung Bahas Harvesting Stem Cell dan Standardisasi Laboratorium

Kamis, 15 Oktober 2026 - 17:52

Membaca Masa Depan SVF: Inovasi Medis, Keselamatan Pasien, dan Batasan Regulasi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 08:41

Ketika Sel Bekerja sebagai Tim: Potensi BMAC dan SVF dalam Kedokteran Regeneratif

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:35

Terapi Regeneratif Ginjal Berbasis Biomedis Syariah, Peluang Baru Pemanfaatan Cathlab

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:54

Mengenal SVF, Terapi Regeneratif Berbasis Sel Autologus dalam Era Personalized Precision Medicin

Berita Terbaru

berita

Tongkat Komando Pangdam IV/Diponegoro Beralih

Sabtu, 17 Okt 2026 - 19:25