Manunggalnya Khaliq dan Makhluk: Tafsir Sufistik atas Konsep Ujianto dan Arsitektur Milieu Intérieur

Senin, 6 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: DR. dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUA

Bismillāhirraḥmānirraḥīm Maha Suci Allah yang telah menggelar semesta sebagai makrokosmos (al-kawn al-kabīr) dan menyempurnakan pancarannya dalam diri manusia sebagai mikrokosmos (al-kawn al-ṣaghīr).

Di balik kompleksitas tubuh manusia, tersimpan keteraturan yang mengundang perenungan. Dalam perspektif ini, kedokteran regeneratif tidak hanya dipahami sebagai ikhtiar biologis, melainkan juga sebagai ruang kontemplasi untuk membaca tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar pada setiap sel, jaringan, dan sistem kehidupan.

Esai ini mengajukan pembacaan filosofis dan sufistik terhadap konsep yang disebut penulis sebagai Hukum dan Postulat Ujianto. Pembacaan ini bukan dimaksudkan sebagai uraian ilmiah yang telah menjadi konsensus, melainkan sebagai ikhtiar memadukan refleksi spiritual dengan bahasa biologi, fisika, dan kedokteran regeneratif.

Dalam pandangan ini, tubuh manusia dipahami sebagai milieu intérieur—lingkungan internal yang menjadi ruang berlangsungnya harmoni kehidupan. Ketika keseimbangan itu terganggu, baik melalui penyakit degeneratif, kerusakan organ, maupun proses biologis lainnya, tubuh kehilangan sebagian keteraturan yang menopang fungsinya. Dalam bahasa tasawuf, keadaan tersebut dianalogikan sebagai keruhnya cermin qalb yang tidak lagi memantulkan cahaya fitrah secara utuh.

READ  Menafsirkan Keharaman Babi dalam Perspektif Studi Islam Kedokteran: Refleksi Biomedis dan Spiritualitas

Terapi autologus—yang memanfaatkan komponen biologis dari tubuh pasien sendiri—dimaknai secara simbolik sebagai proses kembali kepada fitrah. Karena berasal dari diri sendiri, pendekatan ini dipandang sebagai gambaran biologis mengenai pengenalan diri terhadap dirinya sendiri. Dalam kerangka sufistik, hal itu dianalogikan sebagai kembalinya jiwa kepada asal-usulnya, tempat harmoni dan keseimbangan dipulihkan.

Makro-Tajalli: Hidrodinamika sebagai Simbol Tazkiyatun Nafs

Pada tingkat makro, tubuh dialiri jaringan pembuluh darah yang menjadi sungai kehidupan. Ketika aliran tersebut mengalami hambatan, keseimbangan fisiologis ikut terganggu. Dalam tulisan ini, fenomena hidrodinamika dijadikan metafora bagi perjalanan spiritual.

Sebagaimana sumbatan pembuluh darah menghalangi kelancaran aliran, demikian pula berbagai hijab batin dapat menghambat kejernihan hati. Intervensi medis untuk membuka sumbatan dianalogikan sebagai tazkiyatun nafs, yakni proses penyucian diri agar jalan kehidupan kembali terbuka.

Aliran yang kembali teratur dipandang sebagai simbol istiqamah—gerak yang tenang, seimbang, dan selaras dengan sunnatullah. Harmoni fisiologis menjadi cerminan harmoni spiritual.

Meso-Tajalli: Homing Seluler sebagai Metafora Perjalanan Ruhani

Pada tingkat menengah, proses migrasi sel menuju jaringan yang membutuhkan pemulihan dipandang sebagai lambang perjalanan cinta menuju tujuan yang telah ditetapkan Sang Pencipta.

READ  Kidung Selular Makrokosmos–Mikrokosmos: Sinergi Bio-Elektrik, Kuantum Cahaya, dan Hukum Ujianto dalam Syariat Fitrah Autologus

Dalam bahasa tasawuf, setiap perjalanan memiliki arah. Demikian pula setiap proses biologis dipahami sebagai bagian dari keteraturan yang telah ditanamkan Allah dalam ciptaan-Nya.

Perubahan respons imun dari keadaan yang merusak menuju keadaan yang mendukung pemulihan kemudian dimaknai sebagai simbol takhalli dan tahalli: meninggalkan sifat-sifat yang merusak dan menghias diri dengan sifat-sifat yang membawa kehidupan.

Mikro-Tajalli: Harmoni Seluler sebagai Cermin Tauhid

Pada tingkat mikro, penulis memandang bahwa berbagai komponen biologis bekerja bukan secara terpisah, melainkan dalam keterpaduan yang saling melengkapi. Keseluruhan proses tersebut dianalogikan sebagai bentuk syirkah atau kemitraan dalam menjalankan fungsi kehidupan.

Berbagai fenomena biofisika, komunikasi antarsel, hingga dinamika membran sel dipahami sebagai bahasa penciptaan yang menunjukkan bahwa kehidupan berlangsung melalui keteraturan yang luar biasa rumit sekaligus harmonis.

Dalam perspektif ini, setiap proses biologis menjadi ayat kauniyah yang mengajak manusia merenungkan kebesaran Allah.

Melalui pendekatan reflektif ini, tubuh manusia dipandang bukan sekadar kumpulan organ, melainkan sebuah amanah yang menyimpan tanda-tanda kebesaran Sang Pencipta.

READ  RSI Sultan Agung Cetak Rekor MURI Penyuluhan Gigitan Ular, Kemitraan dengan Kemenkes Diperkuat

Tulisan ini mengajak pembaca melihat bahwa ilmu pengetahuan dan spiritualitas tidak selalu harus dipertentangkan. Sains membantu manusia memahami mekanisme kehidupan, sedangkan tasawuf mengajaknya menangkap makna yang lebih dalam di balik mekanisme tersebut.

Pada akhirnya, kesembuhan dipahami bukan hanya sebagai pulihnya fungsi biologis, tetapi juga sebagai proses kembali kepada keseimbangan, fitrah, dan kesadaran bahwa seluruh kehidupan berada dalam iradah Allah SWT.

Wallāhu a’lam bi al-ṣawāb.

Berita Terkait

Terapi Regeneratif Ginjal Berbasis Biomedis Syariah, Peluang Baru Pemanfaatan Cathlab
Mengenal SVF, Terapi Regeneratif Berbasis Sel Autologus dalam Era Personalized Precision Medicin
RSI Sultan Agung Cetak Rekor MURI Penyuluhan Gigitan Ular, Kemitraan dengan Kemenkes Diperkuat
Dari Semarang ke Kuala Lumpur, RSI Sultan Agung Bangun Aliansi Emergency Medicine
Bukan Sekadar Mengisi Jaringan, Inilah Prinsip Terapi Regeneratif Berbasis Sel
Ketika Mikroba Menjadi Sahabat: Fermentasi, Kesehatan, dan Kearifan Islam
Ketika Listrik Menjadi Bahasa Sel: Menyingkap Potensi Terapi Bioelektrik
Jaringan Lemak Bukan Limbah: Potensi Liposuction dalam Kedokteran Regeneratif

Berita Terkait

Minggu, 4 Oktober 2026 - 09:35

Terapi Regeneratif Ginjal Berbasis Biomedis Syariah, Peluang Baru Pemanfaatan Cathlab

Kamis, 1 Oktober 2026 - 07:54

Mengenal SVF, Terapi Regeneratif Berbasis Sel Autologus dalam Era Personalized Precision Medicin

Senin, 28 September 2026 - 09:50

RSI Sultan Agung Cetak Rekor MURI Penyuluhan Gigitan Ular, Kemitraan dengan Kemenkes Diperkuat

Sabtu, 26 September 2026 - 07:38

Dari Semarang ke Kuala Lumpur, RSI Sultan Agung Bangun Aliansi Emergency Medicine

Minggu, 20 September 2026 - 13:36

Bukan Sekadar Mengisi Jaringan, Inilah Prinsip Terapi Regeneratif Berbasis Sel

Berita Terbaru