Ratusan warga memadati Lapangan Ponjen sejak pagi untuk menyaksikan prosesi kirab yang melibatkan seluruh unsur masyarakat. Tujuh gunungan hasil bumi yang diarak merupakan representasi dari tujuh dusun di Desa Pagedongan, sebagai simbol persatuan, kemakmuran, dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Selain masyarakat, kegiatan tersebut juga dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Pagedongan, unsur TNI-Polri, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta pemuda dan Karang Taruna.
Kepala Desa Pagedongan, Siti Latifah, mengatakan pelaksanaan Ruwat Bumi merupakan bentuk komitmen masyarakat dalam menjaga tradisi leluhur sekaligus mempererat kebersamaan antarsesama warga.
“Alhamdulillah, kegiatan ini kembali dapat terlaksana dengan baik berkat kerja sama seluruh masyarakat. Ruwat Bumi bukan hanya tradisi syukuran, tetapi juga menjadi sarana memperkuat persatuan dan melestarikan budaya warisan leluhur,” ujarnya.
Ia berharap semangat kebersamaan yang terbangun melalui kegiatan tersebut dapat terus terjaga sehingga masyarakat Desa Pagedongan senantiasa hidup rukun, aman, dan sejahtera.
Camat Pagedongan, Purwanto, S.E., M.Si., memberikan apresiasi atas antusiasme masyarakat dalam menjaga tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Menurutnya, kegiatan seperti Ruwat Bumi tidak hanya memperkuat nilai budaya, tetapi juga menjadi media mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengingatkan warga agar tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran mengingat wilayah Banjarnegara sedang memasuki musim kemarau.
Ketua panitia pelaksana menyampaikan keberhasilan acara tidak lepas dari kekompakan seluruh elemen masyarakat yang bergotong royong sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.
Setelah kirab gunungan hasil bumi, acara dilanjutkan dengan prosesi perebutan hasil bumi oleh masyarakat yang dipercaya membawa keberkahan. Kemeriahan Ruwat Bumi kemudian ditutup dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk sebagai bagian dari upaya melestarikan seni budaya tradisional Jawa.
Melalui penyelenggaraan Ruwat Bumi, masyarakat Desa Pagedongan berharap tradisi leluhur tetap lestari sekaligus menjadi perekat persatuan dan kebersamaan di tengah kehidupan masyarakat modern.






