Oleh: dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., FISQUA
Pemerhati Studi Islam Kedokteran & Sufistik Seluler | Ketua Umum PP Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unissula Semarang
Dalam dinamika interaksi sosial, profesional, maupun penegakan hukum sehari-hari, kita kerap dipertemukan dengan berbagai tipikal manusia. Salah satu karakter yang paling menguji ketahanan spiritual dan biologis adalah individu dengan tabiat eksplosif yang dalam tulisan ini saya istilahkan sebagai “Tipe Bersin”.
Secara metaforis, mereka adalah pribadi yang dapat meledak-ledak secara tiba-tiba, impulsif, mengeluarkan tekanan emosional tanpa peringatan, dan setelah “droplet emosional” itu menyembur ke mana-mana, mereka seolah merasa lega tanpa terlalu memikirkan dampak psikologis terhadap lingkungan di sekitarnya.
Menghadapi manusia dengan karakter semacam ini tidak cukup hanya dengan manajemen stres konvensional. Kita membutuhkan pendekatan multidimensi yang memadukan ketajaman firasat, pemahaman biomedis, psiko-spiritual sufistik, serta penghayatan ibadah ritual seperti shalat Dhuha.
Patofisiologi “Tipe Bersin”: Mekanisme Genetik dan Seluler Biomedis
Mengapa ada orang yang memiliki sifat meledak-ledak seperti bersin?
Secara biomedis, perilaku impulsif dan eksplosif tentu tidak dapat semata-mata disederhanakan sebagai persoalan “akhlak buruk”. Respons tersebut dapat berkaitan dengan kompleksitas regulasi emosi, fungsi otak, pengalaman hidup, lingkungan sosial, serta faktor biologis dan genetik.
Dalam kajian genetika perilaku, sejumlah variasi gen pernah diteliti berkaitan dengan regulasi neurotransmiter dan kecenderungan perilaku tertentu. Di antaranya adalah Monoamine Oxidase A (MAOA) dan Catechol-O-methyltransferase (COMT). Namun, penting dipahami bahwa gen tidak secara sederhana menentukan seseorang akan menjadi pribadi pemarah atau agresif. Perilaku manusia merupakan hasil interaksi yang kompleks antara faktor biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan.
Dalam konteks metafora “Tipe Bersin”, kita dapat membayangkan adanya sistem respons stres yang sangat sensitif. Ketika menghadapi pemicu tertentu, sistem saraf dapat memberikan respons emosional yang lebih cepat dan kuat. Amigdala berperan dalam memproses ancaman dan emosi, sementara korteks prefrontal membantu seseorang melakukan pertimbangan, pengendalian impuls, dan pengambilan keputusan.
Ketika regulasi emosi tidak berjalan optimal, seseorang dapat memberikan respons yang jauh lebih besar dibandingkan stimulus yang diterimanya.
Secara metaforis, mekanisme tersebut dapat dianalogikan seperti refleks bersin. Stimulus yang relatif kecil dapat memicu respons yang tiba-tiba dan kuat. Bedanya, pada “Tipe Bersin” yang dimaksud dalam tulisan ini, yang disemburkan bukanlah droplet biologis, melainkan tekanan emosional berupa kemarahan, suara keras, kata-kata tajam, atau reaksi impulsif.
Setelah emosi dilampiaskan, individu tersebut mungkin merasakan penurunan ketegangan subjektif. Namun, bagi orang yang menjadi sasaran maupun lingkungan di sekitarnya, dampaknya justru dapat berupa kecemasan, kelelahan emosional, konflik, dan tekanan psikologis.
Karena itu, kemampuan seseorang mengendalikan respons emosional bukan hanya persoalan hubungan sosial, tetapi juga bagian dari kesehatan mental dan kualitas interaksi manusia.
Dimensi Sufistik Ilahiah dan Firasat Mental sebagai Perisai
Dalam perspektif sufistik, tidak ada satu pun ciptaan Allah SWT yang sia-sia. Setiap peristiwa kehidupan dapat menjadi sarana pembelajaran dan peningkatan kualitas jiwa.
Manusia dengan karakter keras, mudah marah, atau eksplosif dapat menjadi ujian tersendiri bagi orang-orang di sekitarnya. Dalam bahasa sufistik, situasi tersebut dapat menjadi “alat kalibrasi jiwa”: sejauh mana kesabaran, pengendalian diri, dan qolbun salim mampu dipertahankan ketika berhadapan dengan tekanan eksternal.
Karakter yang keras dapat kita ibaratkan sebagai representasi Al-Jalal, sedangkan orang yang menghadapinya dituntut menghadirkan keseimbangan berupa Al-Jamal: kelembutan, kebijaksanaan, dan kasih sayang.
Namun, sabar tidak berarti membiarkan diri menjadi sasaran perlakuan yang merusak. Sabar juga bukan berarti kehilangan batas, kehilangan harga diri, atau membenarkan perilaku yang salah.
Sabar adalah kemampuan mengendalikan respons agar tindakan yang kita pilih tetap berada dalam koridor akal sehat, moral, hukum, dan nilai agama.
Dalam konteks inilah firasat mental dapat menjadi salah satu bentuk kesiapsiagaan psikologis. Ketika kita mengenali tanda-tanda bahwa seseorang akan memberikan respons emosional yang eksplosif, kita dapat mempersiapkan diri agar tidak ikut terseret ke dalam pusaran emosi.
Islam mengenal konsep firasat sebagai kepekaan batin. Namun, firasat hendaknya tidak digunakan untuk menghakimi seseorang secara sembarangan. Firasat lebih tepat ditempatkan sebagai kewaspadaan dan kebijaksanaan dalam membaca situasi, bukan sebagai legitimasi untuk memberikan label negatif kepada orang lain.
Tafsir mental yang sehat mengajarkan satu prinsip penting:
Ledakan emosi orang lain tidak selalu harus menjadi beban identitas kita.
Jika seseorang sedang marah, kita tidak harus ikut marah. Jika seseorang sedang kehilangan kendali, kita tidak harus kehilangan kendali pula.
Di sinilah konsep disassociation atau pemisahan psikologis dapat dimaknai secara positif: memisahkan diri dari emosi negatif orang lain tanpa kehilangan empati terhadap manusia yang sedang mengalaminya.
Dengan demikian, sabar dapat berfungsi sebagai “masker mental” yang membantu menyaring toksisitas emosional agar tidak masuk dan menetap dalam diri kita.
Terapi Religius Sufistik Kedokteran: Menyeimbangkan Ayat Al-Qur’an dan Kehidupan Seluler
Tekanan psikologis yang berlangsung terus-menerus dapat memberikan dampak terhadap tubuh. Stres kronis berkaitan dengan perubahan respons hormonal dan sistem saraf serta dapat berkontribusi terhadap beban alostatis (allostatic load).
Karena itu, manusia membutuhkan mekanisme pemulihan, baik melalui pendekatan psikologis, sosial, biologis, maupun spiritual.
Dalam Islam, salah satu sumber kekuatan tersebut adalah Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 134:
“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Pesan wal-kāẓimīnal-ghaiẓ—menahan amarah—memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kehidupan manusia modern.
Menahan amarah bukan berarti memendam emosi secara tidak sehat. Menahan amarah berarti memberikan ruang antara stimulus dan respons, sehingga seseorang memiliki kesempatan untuk memilih tindakan yang lebih tepat.
Pada titik inilah ajaran agama bertemu dengan prinsip regulasi emosi. Ketika seseorang mampu berhenti sejenak, mengatur napas, beristighfar, mengingat Allah, dan menunda respons impulsif, ia memberikan kesempatan kepada sistem pikirnya untuk kembali bekerja secara lebih jernih.
Demikian pula dengan memaafkan. Memaafkan bukan berarti menghapus batas terhadap perilaku yang salah, melainkan membebaskan diri dari keharusan membawa kemarahan tersebut terus-menerus di dalam pikiran.
Dengan demikian, spiritualitas dapat menjadi salah satu sumber daya psikologis dalam menghadapi tekanan kehidupan.
Aktivasi Homeostasis Melalui Shalat Dhuha
Sebagai bagian dari pemulihan ruhani, shalat Dhuha dapat ditempatkan sebagai sarana membangun ketenangan, kedisiplinan, dan keseimbangan diri.
Shalat Dhuha dilaksanakan pada pagi hari, ketika seseorang mulai memasuki fase aktif dalam menjalankan berbagai kegiatan. Pada momentum tersebut, seseorang dapat mengambil jeda dari kesibukan untuk kembali mengingat Allah SWT.
Secara spiritual, jeda tersebut memiliki nilai yang sangat penting.
Gerakan shalat—berdiri, rukuk, sujud, dan duduk—juga melibatkan perubahan posisi tubuh dan aktivitas otot secara ritmis. Sementara itu, perhatian yang terarah kepada bacaan dan gerakan shalat dapat membantu seseorang mengalihkan fokus dari tekanan eksternal menuju kondisi yang lebih tenang.
Penyelarasan Tubuh dan Kesadaran
Rasulullah SAW menyatakan bahwa setiap persendian manusia memiliki kewajiban sedekah setiap harinya dan dua rakaat shalat Dhuha telah mencukupinya.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa ibadah memiliki dimensi spiritual sekaligus mengajarkan kesadaran terhadap tubuh dan aktivitas fisik.
Gerakan shalat dapat menjadi momentum untuk menghentikan sejenak aktivitas, mengatur pernapasan, dan memusatkan perhatian.
Ketenangan dan Regulasi Emosi
Sujud merupakan salah satu momentum paling kuat dalam pengalaman spiritual seorang Muslim. Pada posisi tersebut, manusia menempatkan dirinya dalam keadaan tunduk sepenuhnya kepada Allah SWT.
Jika dilakukan dengan kesadaran penuh, shalat dapat menjadi sarana untuk membangun ketenangan dan membantu seseorang mengambil jarak dari persoalan yang sedang dihadapinya.
Dalam konteks menghadapi manusia “Tipe Bersin”, ketenangan tersebut sangat penting.
Kita tidak ingin mengambil keputusan ketika amarah sedang berada pada puncaknya. Kita ingin kembali kepada keadaan di mana pikiran dapat bekerja secara objektif dan hati dapat mengambil keputusan secara lebih bijaksana.
Ketenangan Emosional dan Kejernihan Hukum Diri
Bagi siapa pun yang berhadapan dengan konflik sosial maupun persoalan hukum, kemampuan menjaga kejernihan sangat penting.
Orang yang mampu mengendalikan emosinya akan lebih mudah membedakan antara fakta, persepsi, prasangka, dan reaksi emosional.
Dengan demikian, ibadah tidak hanya menjadi ritual personal, tetapi juga dapat membentuk disiplin batin yang membantu seseorang menghadapi persoalan secara lebih adil dan proporsional.
Integrasi Pemulihan: Metode Self-Compassion Ujianto Score (U-Score)
Sebagai refleksi praktis dari gagasan tersebut, saya merumuskan Self-Compassion Ujianto Score (U-Score) sebagai sebuah instrumen penilaian diri sederhana.
U-Score bukanlah alat diagnosis medis atau psikologis. Ia merupakan kerangka refleksi untuk membantu seseorang mengevaluasi bagaimana dirinya merespons tekanan emosional.
Metode ini terdiri atas empat tahapan.
1. Un-charge — Mengosongkan Muatan Reaktif
Ketika menerima semburan emosi secara tiba-tiba, jangan langsung memberikan respons verbal maupun fisik.
Berikan jeda sekitar sepuluh detik. Tarik napas secara perlahan dan berikan kesempatan kepada diri sendiri untuk keluar dari respons refleks.
Tujuannya sederhana: jangan mengambil keputusan ketika emosi sedang mengambil alih kemudi.
Keberhasilan menahan respons impulsif pada fase awal ini bernilai hingga 5 poin.
2. Jernih — Mengaktifkan Gelombang Kejernihan Firasat
Tahap kedua adalah mengembalikan kejernihan pikiran.
Katakan kepada diri sendiri:
“Emosi orang lain adalah miliknya. Respons saya adalah tanggung jawab saya.”
Pemisahan ini membantu kita agar tidak menganggap kemarahan orang lain sebagai serangan terhadap seluruh identitas diri.
Kemampuan mempertahankan kejernihan memberikan nilai hingga 5 poin.
3. Istighfar Seluler dan Rahmah
Tahap ketiga adalah mengubah energi konflik menjadi refleksi spiritual.
Beristighfar, berdoa, dan berusaha melihat orang yang sedang kehilangan kendali dengan perspektif rahmah.
Bukan berarti membenarkan perilakunya. Bukan pula berarti membiarkan kesalahan.
Kita hanya menolak untuk membalas keburukan dengan keburukan yang sama.
Kemampuan mengubah kemarahan menjadi doa dan kasih sayang memiliki nilai hingga 5 poin.
4. Neutralize — Aktivasi Homeostasis Paripurna
Tahap terakhir adalah kemampuan untuk kembali kepada kondisi mental yang stabil setelah konflik berlalu.
Pertanyaannya sederhana:
Seberapa cepat kita mampu kembali normal setelah menghadapi ledakan emosi orang lain?
Jika dalam beberapa menit kita sudah dapat kembali bekerja, berpikir, beribadah, dan berinteraksi secara normal tanpa membawa dendam berlebihan, berarti kemampuan pemulihan diri semakin baik.
Tahap ini memiliki nilai hingga 5 poin, sehingga total skor maksimal adalah 20 poin.
Sebagai kerangka refleksi:
- 16–20 poin: stabilitas pengendalian diri sangat baik.
- 11–15 poin: kemampuan regulasi emosi cukup baik, tetapi masih dapat diperkuat.
- 6–10 poin: perlu meningkatkan kesadaran diri dan strategi menghadapi tekanan.
- 0–5 poin: perlu memberi perhatian serius terhadap pola respons emosional dan mencari dukungan yang tepat apabila tekanan sudah mengganggu kehidupan sehari-hari.
Sekali lagi, U-Score bukan instrumen diagnosis klinis. Ia hanyalah sebuah cara sederhana untuk mengajak kita bercermin kepada diri sendiri.
Manusia “Tipe Bersin” sebagai Laboratorium Kehidupan
Pada akhirnya, menghadapi manusia dengan karakter eksplosif bukan hanya persoalan bagaimana kita menghadapi mereka.
Persoalan yang lebih besar adalah:
Siapakah diri kita ketika berhadapan dengan mereka?
Apakah kita ikut meledak?
Apakah kita membalas dengan kata-kata yang lebih tajam?
Apakah kita menyimpan dendam?
Ataukah kita mampu berhenti, menarik napas, beristighfar, berpikir jernih, menetapkan batas yang sehat, dan kemudian memilih respons terbaik?
Di sinilah manusia “Tipe Bersin” dapat menjadi laboratorium kehidupan.
Mereka menguji kesabaran kita. Mereka menguji kedewasaan kita. Mereka menguji kemampuan kita membedakan antara reaksi dan tindakan.
Namun, kesabaran juga harus ditempatkan secara proporsional. Jika perilaku seseorang sudah mengarah pada kekerasan, ancaman, pelecehan, atau pelanggaran hukum, maka menjaga keselamatan diri dan mengambil langkah yang sesuai bukanlah tanda ketidaksabaran. Itu adalah bentuk tanggung jawab.
Karena itu, perpaduan antara firasat, kesabaran, ilmu pengetahuan, spiritualitas, dan keberanian menetapkan batas menjadi modal penting dalam menghadapi dinamika manusia.
Kita tidak mungkin mengendalikan semua orang.
Kita tidak mungkin mencegah setiap “bersin” emosional orang lain.
Tetapi kita masih dapat mengendalikan bagaimana kita meresponsnya.
Dengan ketajaman firasat, pemahaman biomedis, penghayatan Al-Qur’an, shalat, istighfar, self-compassion, serta kemampuan menjaga kejernihan pikiran, kita dapat berusaha tetap tegak di tengah tekanan.
Sehat secara mental, kuat dalam menghadapi tekanan, jernih dalam mengambil keputusan, adil dalam bertindak, dan tetap mulia di hadapan Allah SWT.
Sebab pada akhirnya, kualitas diri kita tidak ditentukan oleh seberapa keras orang lain “bersin”, tetapi oleh seberapa bijaksana kita memilih untuk meresponsnya.






